Rasio Kredit Berisiko di Sejumlah Bank Tunjukkan Penurunan



BINAPAYMENT - JAKARTA. Sejumlah perbankan berhasil menekan rasio kredit berisiko atau pembiayaan yang masuk pantauan pada kuartal I/2023. Alhasil, loan at risk (LAR) bank turun dan kualitas kredit yang disalurkan ikut terjaga. 
Portofolio kredit dengan kualitas rendah atau LAR PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga menurun signifikan 5,32 pts menjadi 11,3% pada kuartal I/2023 dari tahun sebelumnya yang sebesar 16,6%

Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri menyatakan, penurunan LAR ini terutama berasal dari penurunan portofolio restrukturisasi Covid kolektibilitas 1. Debitur-debitur restrukturisasi Covid telah kembali dapat membayar angsuran maupun melunasi kewajiban (sehingga diterapkan unflagging).
Selain itu, Bank Mandiri juga telah mampu menjaga posisi non performing loan (NPL) ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, dengan posisi 1,77% secara bank only di akhir Maret 2023.
Kami melihat tren perbaikan LAR ini akan berlanjut di tahun ini, walaupun masih tetap berhati-hati dengan kondisi makroekonomi yang belum membaik signifikan, sehingga ke depan kami memproyeksikan LAR dapat kami jaga di kisaran 10%-12%, sedangkan untuk NPL kami perkirakan dapat dikelola di sekitar 1%," papar Siddik.
Untuk mencapai proyeksi tersebut, Bank Mandiri akan terus menerapkan prinsip kehati-hatian pada seluruh tahapan proses penyaluran kredit. Kehati-hatian dimulai dari pemilihan target market sektoral melalui loan portfolio guideline, penentuan pipeline calon debitur, sampai dengan monitoring kinerja debitur untuk memastikan debitur mampu memenuhi kewajibannya dengan baik.
"Kami juga menerapkan early warning mechanism dan watchlist process pada debitur-debitur dan portofolio untuk mendeteksi adanya penurunan kinerja untuk segera dapat mengambil langkah antisipasi melalui restrukturisasi lebih awal," imbuh dia.

Kredit berisiko PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI (BBRI) juga turun. Hingga kuartal I/2023 tercatat LAR BRI mencapai sebesar 16,89%. Angka LAR turun signifikan dibandingkan dengan LAR periode yang sama tahun 2022 yakni sebesar 22,58%.
Selain itu, Bank BRI juga telah mampu menjaga posisi NPL ke level terendah dengan posisi 3,02% secara bank only di akhir Maret 2023. Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, penurunan ini sejalan dengan pemulihan ekonomi pasca pandemi, serta kian melandainya portofolio restrukturisasi kredit terdampak COVID di BRI.
"Khusus untuk restrukturisasi kredit terdampak Covid, mayoritas nasabah yang berhasil lepas restrukturisasi merupakan hasil dari pembayaran. Hal tersebut mengindikasikan program restrukturisasi berhasil memberikan dampak positif baik bagi bank maupun nasabah," katanya.
Aes menyebut, untuk tahun ini BRI akan menjaga LAR di kisaran 16% dan NPL 2,8%-3%. Strategi utama BRI dalam menjaga kualitas kredit yakni, dengan melakukan selective growth. BRI juga terus membentuk cadangan yang cukup sebagai langkah antisipasi terjadinya pemburukan kualitas kredit.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga berhasil menekan LAR 430 bps menjadi 9,5% pada kuartal I/2023 dari periode Maret 2022 yang mencapai 13,8%. Adapun, NPL bank BCA tercatat terus susut menjadi 1,8%, dari tahun sebelumnya yang mencapai 2,3%.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan penurunan kredit berisiko tersebut seiring dengan kembali meningkatnya kemampuan debitur menyelesaikan pembayaran restrukturisasi covid usai pandemi Covid-19.

"Secara keseluruhan, hingga Maret 2023, outstanding restrukturisasi kredit BCA terus mengalami penurunan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya seiring dengan pemulihan ekonomi. Dari total jumlah restrukturisasi kredit saat ini, didominasi oleh kategori lancar," ungkap Hera.
Dalam menjaga kualitas kredit, BCA mengaku akan terus memastikan kecukupan pencadangan kredit pada setiap sektor.
"Pencadangan NPL dan LAR tercatat cukup memadai, yakni masing-masing sebesar 285,4% dan 57,9%," katanya.
Hal ini disebut Hera ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang positif dan likuiditas yang solid. Perseroan juga tetap optimis dalam penyaluran kredit dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, sehingga kualitas pinjaman tetap terjaga.

Bagikan :

Add New Comment

 Your Comment has been sent successfully. Thank you!   Refresh
Error: Please try again